Rabu, 09 Agustus 2017

*Dalil Semangat & Lesu Dalam Beramal *

Dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Âsh radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةً، وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةٌ، فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى سُنَّتِي فَقَدِ اهْتَدَى، وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ هَلَكَ

“Sesungguhnya setiap amalan mempunyai suatu semangat, dan pada setiap semangat memiliki kejenuhan. Maka barangsiapa kejenuhannya (mengarah) kepada sunnahku, sungguh dia telah mendapat petunjuk, dan barangsiapa kejenuhannya (mengarah) kepada selain (sunnahku), sungguh telah binasa.” [Diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Abi ‘Âshim, Ath-Thahâwy, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibbân dan Al-Baihaqy dalam Syu’abul Îmân. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dan Syaikh Muqbil

^^ Diantara Sumber Kekuatan ^^

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, tatkala Fatimah radhiyallahu ‘anha meminta pembantu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengajarkan kepada Ali dan Fatimah seraya bersabda,

أَلَا أُعَلِّمُكُمَا خَيْرًا مِمَّا سَأَلْتُمَا؟ إِذَا أَخَذْتُمَا مَضَاجِعَكُمَا أَنْ تُكَبِّرَا اللهَ أَرْبَعًا وَثَلَاثِيْنَ وَتُسَبِّحَاهُ ثَلَاثَةً وَثَلَاثِيْنَ وَتَحْمَدَاهُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِيْنَ، فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ

“Inginkah kalian berdua aku ajari tentang sesuatu yang lebih baik dari (pembantu) yang kalian berdua minta? Apabila kalian berdua telah mengambil tempat pembaringan, hendaknya kalian berdua bertakbir (membaca Allahu Akbar) 34 kali, bertasbih (membaca Subhanallahu) 33 kali, dan bertahmid (membaca Alhamdulillah) 33 kali. Maka, itu (semua) lebih baik daripada seorang pembantu.”

Hak Allah Terhadap Hambanya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا مُعَاذُ أَتَدْرِيْ مَا حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ، وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ؟ قُلْتُ: اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوْهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً، وَحَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئاً

“Hak Allah terhadap para hamba ialah mereka beribadah kepada-Nya semata dan tidak berbuat syirik sedikit pun kepada-Nya, sedang hak para hamba atas Allah adalah bahwa Allah tidak akan mengadzab orang yang tidak berbuat syirik sedikit pun kepada-Nya.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari Mu’âdz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu.]

Jumat, 04 Agustus 2017

MENUNGGU

Berapa lama kita harus menunggu?
Tergantung. Boleh sebentar, boleh selamanya. Hanya saja, gantungkan harapan tersebut bukan ke orangnya/
sesuatu; gantungkan harapan tersebut ke yang maha menguasai hati. Tempat seluruh pengharapan akan kembali.
Maka proses menunggunya boleh jadi berkah dan bermanfaat--pun kalau ujungnya tidak seperti yang kita inginkan di awal.
*Tere Liye

Kamis, 03 Agustus 2017

Kewajiban Istiqomah

_Ustadz Muhammad Wasitho Lc MA_

Bismillah. Sesungguhnya sikap istiqomah dgn senantiasa sabar dan tegar di atas iman, dan kontinyu dlm menjalankan ketaatan kpd Allah merupakan kewajiban yg berlangsung sampai kematian menjemput kita.

#Hal ini berdasarkan firman Allah (artinya):

“Hai orang-orang yg beriman, bertakwalah kamu dgn sebenar-benar ketakwaan kepada-Nya. Dan janganlah kamu mati kecuali dlm keadaan sebagai muslim.” (QS. Ali Imran:102)

#️Dan juga firman-Nya (artinya):

"Dan beribadahlah kpd Tuhanmu sampai datang kepadamu kematian." (QS. Al-Hijr:99)

#Diriwayatkan dari ’Aisyah radhiyallahu ’anha_ ,ia menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amalan yg paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yg dikerjakan dgn kontinyu meskipun kadarnya sedikit.” 'Aisyah pun tatkala mengerjakan suatu amalan selalu berkeinginan keras utk merutinkannya. (HR.Muslim no.783)

#Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: "Wahai kaum muslimin, rutinlah dlm beramal, rutinlah dlm beramal. Ingatlah! Allah tidaklah menjadikan akhir dari seseorang beramal selain kematiannya.”

#️Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah juga berkata: "Jika setan melihatmu kontinyu dalam melakukan amalan ketaatan kpd Allah, dia pun akan menjauhimu. Namun jika setan melihatmu beramal kemudian engkau meninggalkannya setelah itu, malah melakukannya sesekali saja, maka setan pun akan semakin tamak utk menggodamu.” _(Lihat Al-Mahjah fii Sayrid-Duljah, karya Al-Hafizh Ibnu Rojab Al-Hanbali, hal.71)_

Semoga Allah memberikan taufiq dan kemudahan kpd kita agar selalu istiqomah dalam mempelajari dan mengamalkan syari'at-Nya serta mendakwahkannya dengan ikhlas dan sesuai Sunnah hingga kematian menjemput kita. Amiin.

                            

Kebodohan Bukan Untuk Di tertawakan

Kalau ada orang yang “bodoh”, seharusnya diajari atau dibenarkan. Bukan malah dijadikan bahan tertawaan atau olok-olok saja. Jika tidak demikian, maka apa bedanya kita sama orang bodoh yang kita olok-olok tersebut? Karena di antara sifat orang bodoh itu adalah suka mengolok-olok atau mengejek orang lain.

Allah berfirman mengisahkan Nabi Musa bersama kaumnya bani Israa’iil,

وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً قَالُوا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ

“Dan ingatlah tatkala Musa berkata kepada kaumnya, “Sesugguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menyembelih sapi betina.” Mereka berkata, “Apakah engkau menjadikan kami sebagai bahan ejekan?” Musa berkata, “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang- orang yang jahil.” (Qs. Al-Baqarah: 67)

Lebih parah lagi, kita menjadi latah untuk meniru-niru perilaku orang yang kita jadikan sebagai bahan tertawaan tersebut dalam status-status kita. Tujuannya paling sekedar untuk mengundang tawa orang yang membacanya atau barangkali dalam rangka menunjukkan dirinya lebih baik dari orang “bodoh” tersebut. Wallaahu a’lam.

Adakalanya memang orang yang bodoh itu tidak merasa dirinya bodoh. Yang model begini lebih banyak. Akan tetapi tidak berarti harus ditanggapi dengan sebuah “kebodohan” pula, yaitu dengan mengejeknya, atau mengolok-oloknya, menjadikannya sebagai bahan tertawaan di mana-mana. Tidakkah kita ingat akan firman Allah yang menjelaskan sifat-sifat “Hamba-hamba Ar-Rahmaan”? Bukankah Allah telah mengajarkan kita bagaimana menghadapi orang-orang yang bodoh?

وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

“…dan apabila orang-orang yang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik” (Qs. Al-Furqaan: 63).

Terkadang kita sering dilupakan dengan hadits nabi yang sering kita dengar. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya ia berkata yang baik atau hendaknya dia diam” (HR. Muslim)

Kecewa

Terkadang Allah Hanya Mempertemukan Dua Insan, Bukan Berarti Menyatukannya.

20juli2017
11.30am
SmartHotel Thamrin
Firstime alone
Allah forgive me