Minggu, 23 November 2014

Senyum Sejenak

Senyum sejenak...

 ROMANTIKA SEORANG AHLI TAJWID KEPADA ISTRINYA SETELAH AKAD NIKAH...

✔ Dik, saat pertama kali berjumpa denganmu, aku bagaikan berjumpa dengan Saktah hanya bisa terpana dengan menahan nafas sebentar.

✔ Aku di matamu mungkin bagaikan Nun Mati diantara idgham Billaghunnah, terlihat, tapi dianggap tak ada.

✔ Aku ungkapkan maksud dan tujuan perasaanku seperti Idzhar,
jelas dan terang.

✔ Jika Mim Mati bertemu Ba disebut ikhfa Syafawi, maka jika aku bertemu dirimu, itu disebut cinta.

✔ Sejenak pandangan kita bertemu, lalu tiba-tiba semua itu seperti Idgham Mutamaatsilain melebur jadi satu.

✔ Cintaku padamu seperti Mad Lazim. Paling panjang di antara yang lainnya.

✔ Setelah kau terima cintaku, hatiku rasanya seperti Qalqalah Kubro. Terpantul-pantul dengan keras.

✔ Dan akhirnya setelah lama kita bersama, cinta kita seperti Iqlab,
ditandai dengan dua hati yang menyatu.

✔ Sayangku padamu seperti Mad Thobi'I dalam quran. Buanyaaakkk beneerrrrr.

✔ Semoga dalam hubungan, kita ini kayak idgham Bilaghunnah ya,
cuma berdua, Lam dan Ro'.

✔ Layaknya Waqaf Mu'annaqah, engkau hanya boleh berhenti di salah satunya, dia atau aku ?

✔ Meski perhatianku ga terlihat kaya Alif Lam Syamsiah, cintaku padamu seperti Alif Lam Qomariah, terbaca jelas.

✔ Dik, kau dan aku seperti Idghom Mutajanisain. perjumpaan 2 huruf yang sama makhrajnya tapi berlainan sifatnya.

✔ Aku harap cinta kita seperti Waqaf Lazim, terhenti sempurna di akhir hayat.

✔ Sama halnya dengan Mad 'Aridh dimana tiap mad bertemu Lin Sukun Aridh akan berhenti, seperti itulah pandanganku ketika melihatmu.

✔ Layaknya huruf Tafkhim, namamu pun bercetak tebal di fikiranku.

✔ Seperti Hukum Imalah yang dikhususkan untuk Ro' saja, begitu juga aku yang hanya untukmu.

✔ Semoga aku jadi yang terakhir untuk kamu seperti Mad Aridlisukun.

Rabu, 19 November 2014

Tawakāl Yang Indah

 .Tawakkal yang Indah

Dikatakan kpd seorang yg saleh,
"Apa sih rahasianya menjadi orang sangat sll berserah diri kpd Allah & sll istiqomah?

Beliau menjawab,"Dalam hidup saya, saya selalu berpegang kpd 4 prinsip dan itu yg membuat saya -alhamdulillah- bisa menjaga istiqomah..

1. Saya sangat yakin bahwa rezeki saya tdk akan tertukar dgn rezeki orang lain, makanya saya tdk pernah terlalu memikirkan rezeki & nasib saya..
Justru saya selalu menyerahkannya kpd Allah..

2. Amal ibadah saya adalah yang saya amalkan sendiri, jd jgn pernah berharap mendapat kemuliaan amal dari hasil jerih payah orang lain..

3. Saya selalu menyadari bhw kematian akan datang secara tiba-tiba, makanya saya sll mempersiapkan diri untuk menghadapinya..

4. Saya senantisa yakin bhw Allah tdk pernah tidur & selalu melihat gerak-gerik saya, sehinga saya sangat merasa malu tatkala saya bermaksiat kpd-Nya..

Siyarul 'alamun nubala karya imam Dzahabi

Semoga bermanfaat!

    Ust Djazuli, Lc حفظه الله تعال

Minggu, 02 November 2014

Ikhwan Bersorban

Bismillaah....
   Tepat jam 7.15pm.2november2014.masjid annur mahogany cibubur..beberapa ikhwan berjubah putih,bersorban putih berbadan tegap ,memegang alquran&memasuki masjid untuk solat isya berjamaah,,
   Dalam hati (masyaa allah..santri dāri mana iniiii keren~keren bangettt)
Nampaknya mereka hafidz quran...
Ya Rabb...bahagianya berkumpul dengan orang orang soleh....
Ingin selamanya kuberada dilingkungan orang soleh...istiqomahkan ya Rabb yang Maha membolak balikan hati manusia..tetapkan hatiku dijalanMU..
Allaaahu  akbarrr allaaahu akbarrr.

Rabu, 29 Oktober 2014

BE STRONG

. BE STRONG!

Wahai saudaraku..
Be strong!
Krn prjalananmu msh jauh
Krn sungguh engkau slamanya akan mnjadi musafir..
Yg batas akhir prjalananmu hnyalah surga/neraka

Be strong dlm istiqomah!
Dan adukanlah kebutuhan&kesusahanmu hnya kpd Rabbmu
Niscaya tdk lama Rabbmu akan mencukupimu
Apkah dgn kematian yg dekat
Atau dgn kecukupan yg dekat

Be strong dlm doamu!
Krn Rabbmu Maha Mengabulkan doa..
Dan jgnlah bermaksiat kpdNya
Krn tdk akan trkabulkan doamu
Yg jlnnya sll engkau tutup dgn maksiatmu
Serta beramallah..
Krn org yg brdoa tnpa beramal..
Sperti org melempar batu tp tdk ada batunya

Be strong dlm sabarmu!
Sabarlah menanggung apa yg engkau benci, jk Rabbmu mncintainya..
Dan bencilah apa yg engkau sukai, jk Rabbmu membencinya..
Dan jgnlah brpaling kpd keburukan
Krn keburukan, tdk menjadikan keburukan itu baik..
Dan byknya org yg meninggalkan kebenaran, tdk mnjadikan kebenaran itu bathil..
Krn kebenaran itu BENAR meski ditinggalkan manusia..
Dan kebathilan itu BATHIL walau dilakukan byk manusia..

Sungguh Rabbmu mncintai hamba Alqur'an krn ia Kalamullah
Dan membenci hamba musik krn ia khomr bagi jiwa
Mk jk engkau benar2 mencintai Alqur'an..
Tdk akan ada tmpt di hatimu utk musik&nyanyian..
Sungguh susu itu akan rusak bila dicampur cuka..

Be strong dlm dakwahmu!
Serulah ummatmu kpd Rabbmu
Kpd Tauhid, dgn hikmah..
Bkn kpd dakwah dgn berjoget ria..
Yg hakekatnya meracuni aqidah&jiwa
Ketahuilah..
Sesungguhnya ummat ini blmlah merdeka.. Slama mrk msh mnyembah kpd Allah dgn cara yg bathil

Yaa Rabbi..
Sesungguhnya kami brada dibwh kehendakMu&kasih sayangMu..
Wahai Engkau yg tlah mnyembuhkan nabi Ayyub dr penderitaannya
Dan tlah mngembalikan nabi Musa kpd ibunya
Yg tlah mnyelamatkan Nabi Yunus dr perut ikan paus
Yg tlah mnjadikan api mnjadi dingin bg Nabi Ibrahim
Sungguh kami menyeruMu dgn Asmaul Husna..
Mk sembuhkanlah&selamatkanlah aqidah kami dr kesesatan yg indah..
Dan dr fitnah keagungan khilafah yg hakekatnya anjing2 neraka..

::Indahnya Islam,bagi kaum yg brfikir::

Jumat, 24 Oktober 2014

Bila Muslimah Jatuh Cinta

BILA MUSLIMAH JATUH CINTA, LALU?
Jika seorang Muslimah merasakan hatinya
jatuh cinta kepada seorang laki-laki,
maka selama ada jalan hendaknya
diusahakan untuk menikah dengannya.
Jika tidak ada jalan yang memungkinkan
menikahinya, maka muslimah tersebut
wajib Shobr (tabah hati), sampai Allah
menggantikan dengan lelaki yang lebih
baik, atau Allah "menyembuhkannya"
dari "sakit" cinta tersebut.
Inilah solusi yang lebih dekat dengan
petunjuk Nash-Nash Syara' dan lebih
menjaga kehormatan serta dien Muslimah
tersebut.
Jatuh cinta kepada lawan jenis, dari segi
jatuh cinta itu sendiri bukanlah aib dan
juga bukan dosa.
Jatuh cinta adalah hal yang manusiawi
dan menjadi naluri yang ada secara
alamiah pada setiap manusia normal.
Nabi, orang suci, orang shalih, dan ulama
mengalami jatuh cinta kepada lawan jenis
sebagaimana manusia pada umumnya.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam
cinta kepada Khadijah dan Aisyah, ibnu
Umar cinta yang sangat kepada istrinya,
Ibnu Hazm cinta pada wanita yang
sampai membuatnya menjadi ulama besar,
Sayyid Quthub
mencintai wanita namun gagal
menikahinya, dll semuanya adalah contoh
bagaimana perasaan itu adalah perasaan
yang normal, wajar, natural, dan biasa.
Adapun mengapa orang yang jatuh cinta
perlu mengusahakan menikah dengan
orang yang dicintai, maka hal tersebut
dikerenakan Syara' menunjukkan bahwa
solusi cinta terhadap lawan jenis adalah
dengan menikah dengannya.
Di zaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wassalam ada seorang lelaki yang
jatuh cinta setengah mati dengan
seorang wanita.
Lelaki tersebut bernama Al-Mughits dan
wanitanya bernama Bariroh.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam
yang mengetahui cinta
tersebut merekomendasikan kepada
Bariroh agar berkenan
menikah dengan Al-Mughits.
Rekomendasi Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wassalam ini menunjukkan bahwa solusi
jatuh cinta adalah menikah.
Bukhari meriwayatkan;
Dari Ibnu Abbas bahwasanya suami
Bariroh adalah seorang budak. Namanya
Mughits. (setelah keduanya bercerai)
Sepertinya aku melihat ia selalu
menguntit di belakang Bariroh seraya
menangis hingga air matanya membasahi
jenggot.
Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda: “Wahai Abbas, tidakkah kamu
ta’ajub akan kecintaan Mughits terhadap
Bariroh dan kebencian Bariroh terhadap
Mughits?”
Akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
pun bersabda: “andai saja kamu
mau meruju’nya kembali (menikah
dengannya).” Bariroh bertanya, “Wahai
Rasulullah, apakah engkau menyuruhku?”
beliau menjawab, “Aku hanya
menyarankan.” Akhirnya Bariroh pun
berkata, “Sesungguhnya aku tak butuh
sedikit pun padanya.”
(H.R. Bukhari)
Pernah juga ada kejadian, seorang lelaki
yang mencintai seorang wanita dan
wanita tersebut mencintai lelaki itu. Lalu
keduanya ingin menikah, namun
dihalang-halangi oleh kakak wanita
tersebut.
Ternyata Allah melarang sikap sang
kakak dan memerintahkan agar
menikahkan mereka berdua. Kisah ini juga
menunjukkan bahwa jatuh cinta antara
dua anak manusia solusinya tetap
dikembalikan pada pernikahan selama
masih memungkinkan.
Bahkan Allah mencela sikap menghalang-
halangi pernikahan jika kedua belah
pihak telah saling ridha.
At-Tirmidzi meriwatkan kisahnya;
Dari Ma’qil bin Yasar bahwa pada masa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dia
menikahkan saudarinya dengan seorang
lelaki dari kaum muslimin, lalu saudarinya
tinggal bersama suaminya beberapa
waktu, setelah itu dia menceraikannya
begitu saja, ketika masa Iddahnya usai,
ternyata suaminya cinta kembali kepada
wanita itu begitu sebaliknya, wanita itu
juga mencintainya, kemudian dia
meminangnya kembali bersama orang-
orang yang meminang, maka Ma’qil
berkata kepadanya;
hai tolol, aku telah memuliakanmu
dengannya dan aku telah menikahkannya
denganmu, lalu kamu menceraikannya,
demi Allah dia tidak akan kembali lagi
kepadamu untuk selamanya,inilah akhir
kesempatanmu.”
Perawi berkata; “Kemudian Allah
mengetahui kebutuhan suami kepada
istrinya dan kebutuhan isteri kepada
suaminya hingga Allah Tabaraka wa
Ta’ala
menurunkan ayat: “Apabila kamu
mentalak isteri-isterimu, lalu mereka
mendekati akhir iddahnya.”
QS Al-Baqarah: 231
sampai ayat “Sedang kamu tidak
Mengetahui.” Ketika Ma’qil mendengar
ayat ini, dia berkata; “Aku mendengar
dan patuh kepada Rabbku, lalu dia
memanggilnya (mantan suami saudarinya
yang ditolaknya tadi) dan berkata; “Aku
nikahkan kamu dan aku muliakan kamu.”
(At-Tirmidzi)
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassalam
sendiri bahkan mengajarkan kepada kita
bahwa menikah adalah obat yang paling
mujarab bagi dua orang yang saling
mencintai.
Ibnu Majah meriwayatkan;
Dari Ibnu Abbas ia berkata, "Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Kami belum pernah melihat (obat yang
mujarab bagi ) dua orang yang saling
mencintai sebagaimana sebuah
pernikahan."
(H.R. Ibnu Majah)
Nash-Nash ini, dan yang semakna
dengannya menunjukkan bahwa menikah
adalah solusi syar'i bagi orang yang
jatuh cinta.
Oleh karena itu seorang muslimah yang
jatuh cinta kepada seorang lelaki bisa
memulai mengusahakan menikah dengan
lelaki tersebut dengan cara menawarkan
dirinya untuk dinikahi.
Cara ini lebih tegas, Syar'i, solutif, dan
terhormat.
Menawarkan diri kepada lelaki untuk
dinikahi bukan perbuatan hina dan
tercela. Justru wanita yang menawarkan
dirinya kepada seorang lelaki adalah
wanita yang mengerti solusi Syar'i
terhadap problemnya, tegas dalam
mengambil keputusan, terhormat karena
tahu cara menjaga kehormatannya
dengan ikatan pernikahan yang suci, dan
mulia karena mengetahui kepada siapa
dia harus mempersembahkan bakti.
Khadijah adalah
contoh wanita mulia yang tahu persis
kepada siapa beliau mempersembahkan
bakti, dan siapa yang pantas jadi
imamnya dalam rumah tangga.
Dengan ketegasan sikap beliau, maka
Khadijah mendapatkan lelaki yang
terbaik di alam ini. Justru sikap yang
menjauhi ketakwaan jika seorang wanita
mencintai
seorang lelaki, lalu perasaan tersebut
dipendamnya seraya mengotori hatinya
dengan angan-angan tercela.
Sesungguhnya angan-angan hati ada
yang terkategori dosa sebagaimana yang
dinyatakan dalam hadis dibawah ini;
Dari Ibnu Abbas dia berkata; ‘Saya tidak
mengetahui sesuatu yang paling dekat
dengan makna Lamam (dosa dosa kecil)
selain dari apa yang telah dikatakan oleh
Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa Salam: “Sesungguhnya Allah `Azza
Wa Jalla telah menetapkan pada setiap
anak cucu Adam bagiannya dari
perbuatan zina yang pasti terjadi dan
tidak mungkin dihindari. Maka zinanya
mata adalah melihat, zinanya lisan
adalah ucapan, sedangkan zinanya hati
adalah berangan-
anga dan berhasrat, namun kemaluanlah
yang (menjadi penentu
untuk) membenarkan hal itu atau
mendustakannya.”
(H.R. Muslim)
Wanita yang menawarkan diri lebih tegas
dan jelas sikapnya.
Jika hal tersebut bisa berlanjut ke
pernikahan, maka hal itu kebahagiaan
baginya, namun jika tidak mungkin
berlanjut,sikapnya juga sudah jelas dan
tinggal menyelesaikan problem sisanya.
Wanita yang memendam rasa sambil
berfantasi justru berpeluang untuk lebih
menderita dan dekat dengan
pelanggaran Syara', kecuali wanita-
wanita yang dirahmati Allah.
Terkait teknis melakukannya, maka
wanita bebas memilihnya diantara
berbagai cara yang dianggap paling
mudah.
Bisa melalui perantara atau langsung
dirinya sendiri. Bisa secara lisan, bisa
juga melalui tulisan. Bisa sekedar memulai
untuk menawarkan atau langsung
memulai dengan lafadz pinangan.
Hanya saja, solusi menikah ini tidak
bermakna bolehnya memaksa lelaki untuk
menikahinya. Hal itu dikarenakan memilih
istri adalah hak lelaki yang merupakan
pilihan baginya.
Sebagaimana wanita berhak memilih
calon suami, maka lelaki juga berhak
memilih calon istri manapun yang
dikehendakinya.
Tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa
lelaki wajib menikahi wanita yang
mencintainya. Kisah cinta Al Mughits
kepada Bariroh menunjukkan hal
tersebut. Betapapun Al-Mughits sangat
mencintai Bariroh, dan Nabi juga
merekomendasikan
Bariroh untuk menikah dengan Al-
Mughits, namun Nabi tidak memaksa
Bariroh untuk menikah dengan Al-
Mughits.
Namun, jika cinta itu memang sangat
kuat (cinta setengah mati), memang
dianjurkan pihak yang dicintai
menikahinya sebagai bentuk rohmah,
meskipun dia sendiri belum mencintainya.
Jika pihak yang dicintai belum berkenan
menikahi dan tertutup
semua jalan/kemungkinan untuk menikahi,
maka tidak ada jalan
bagi muslimah tersebut selain Shobr
(tabah hati).
Hal itu dikarenakan Syara'
memerintahkan Shobr pada semua bentuk
musibah yang menyedihkan hati secara
mutlak dan berjanji memberikan
ganjaran yang besar atasnya. Shobr ini
terus dilakukan sambil berdoa sampai
Allah memberikan ganti lelaki yang lebih
baik, atau Allah menghilangkan perasaan
tersebut,
atau Allah mewafatkannya.
Dengan cara penyikapan seperti ini, maka
seorang muslimah akan senantiasa dalam
keadaan beramal.
Mendapat nikmat suami bisa beramal
Syukur, dan jika gagal bisa beramal
Shobr.
Semuanya adalah kebaikan baginya.
Wallahu a'lam. —

Selasa, 21 Oktober 2014

Keutamaan Cinta Akhirat & Zuhud Dalam Kehidupan Dunia

Keutamaan Cinta Akhirat Dan Zuhud
Dalam Kehidupan Dunia
Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu
beliau berkata: Kami mendengar
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
(( ﻣَﻦْ ﻛﺎﻧﺖ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻫَﻤَّﻪُ ﻓَﺮَّﻕ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﻣﺮَﻩُ ﻭﺟَﻌَﻞَ ﻓَﻘْﺮَﻩُ
ﺑﻴﻦ ﻋﻴﻨﻴﻪ ﻭﻟﻢ ﻳَﺄْﺗِﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﺇﻻ ﻣﺎ ﻛُﺘِﺐَ ﻟﻪ، ﻭﻣﻦ ﻛﺎﻧﺖ
ﺍﻵﺧﺮﺓُ ﻧِﻴَّﺘَﻪُ ﺟَﻤَﻊَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻟﻪ ﺃَﻣْﺮَﻩُ ﻭﺟَﻌَﻞَ ﻏِﻨﺎﻩ ﻓﻲ ﻗَﻠْﺒِﻪ ﻭﺃَﺗَﺘْﻪُ
ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻭﻫِﻲَ ﺭﺍﻏِﻤَﺔٌ
“Barangsiapa yang (menjadikan) dunia
tujuan utamanya maka Allah akan
mencerai-beraikan urusannya dan
menjadikan kemiskinan/tidak pernah
merasa cukup (selalu ada) di
hadapannya, padahal dia tidak akan
mendapatkan (harta benda) duniawi
melebihi dari apa yang Allah tetapkan
baginya. Dan barangsiapa yang
(menjadikan) akhirat niat (tujuan
utama)nya maka Allah akan
menghimpunkan urusannya, menjadikan
kekayaan/selalu merasa cukup (ada)
dalam hatinya, dan (harta benda)
duniawi datang kepadanya dalam
keadaan rendah (tidak bernilai di
hadapannya)“[1].
Hadits yang mulia ini menunjukkan
keutamaan cinta kepada akhirat dan
zuhud dalam kehidupan dunia, serta
celaan dan ancaman besar bagi orang
yang terlalu berambisi mengejar harta
benda duniawi[2].
Beberapa faidah penting yang
terkandung dalam hadits ini:
– Orang yang cinta kepada akhirat akan
memperoleh rezki yang telah Allah
tetapkan baginya di dunia tanpa
bersusah payah, berbeda dengan orang
yang terlalu berambisi mengejar dunia,
dia akan memperolehnya dengan susah
payah lahir dan batin[3]. Salah seorang
ulama salaf berkata, “Barangsiapa yang
mencintai dunia (secara berlebihan)
maka hendaknya dia mempersiapkan
dirinya untuk menanggung berbagai
macam musibah (penderitaan)“[4].
– Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah
berkata[5], “Orang yang mencintai dunia
(secara berlebihan) tidak akan lepas dari
tiga (macam penderitaan): Kekalutan
(pikiran) yang selalu menyertainya,
kepayahan yang tiada henti, dan
penyesalan yang tiada berakhir. Hal ini
dikarenakan orang yang mencintai dunia
(secara berlebihan) jika telah
mendapatkan sebagian dari (harta
benda) duniawi maka nafsunya (tidak
pernah puas dan) terus berambisi
mengejar yang lebih daripada itu,
sebagaimana dalam hadits yang shahih
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Seandainya seorang manusia
memiliki dua lembah (yang berisi) harta
(emas) maka dia pasti (berambisi)
mencari lembah harta yang ketiga“[6].
– Kekayaan yang hakiki adalah
kekakayaan dalam hati/jiwa. Rasululah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Bukanlah kekayaan itu dengan
banyaknya harta benda, tetapi kekayaan
(yang hakiki) adalah kekayaan (dalam)
jiwa“[7].
– Kebahagiaan hidup dan keberuntungan
di dunia dan akhirat hanyalah bagi
orang yang cinta kepada Allah dan hari
akhirat, sebagaimana sabda Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sungguh sangat beruntung seorang
yang masuk Islam, kemudian
mendapatkan rizki yang secukupnya dan
Allah menganugrahkan kepadanya sifat
qana’ah (merasa cukup dan puas) dengan
rezki yang Allah Ta’ala berikan
kepadanya”[8].
– Sifat yang mulia ini dimiliki dengan
sempurna oleh para sahabat Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam dan inilah
yang menjadikan mereka lebih utama dan
mulia di sisi Allah Ta’ala dibandingkan
generasi yang datang setelah mereka.
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,
“Kalian lebih banyak berpuasa,
(mengerjakan) shalat, dan lebih
bersungguh-sungguh (dalam beribadah)
dibandingkan para sahabat Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi mereka
lebih baik (lebih utama di sisi Allah
Ta’ala) daripada kalian”. Ada yang
bertanya: Kenapa (bisa demikian), wahai
Abu Abdirrahman? Ibnu Mas’ud
radhiyallahu ‘anhu berkata: “Karena
mereka lebih zuhud dalam (kehidupan)
dunia dan lebih cinta kepada akhirat”[9].
ﻭﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﺑﺎﺭﻙ ﻋﻠﻰ ﻧﺒﻴﻨﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﻭﺁﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ
ﺃﺟﻤﻌﻴﻦ، ﻭﺁﺧﺮ ﺩﻋﻮﺍﻧﺎ ﺃﻥ ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﺭﺏ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ
Kota Kendari, 27 Syawaal 1431 H
Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-
Buthon, MA
Artikel www.muslim.or.id

Cinta Sejati

Dikirim: Ummu Yusuf Wikayatu Diny
Muroja’ah: Ust Aris Munandar
Adalah kebahagiaan seorang laki-laki
ketika Allah menganugrahkannya seorang
istri yang apabila ia memandangnya, ia
merasa semakin sayang. Kepenatan
selama di luar rumah terkikis ketika
memandang wajah istri yang tercinta.
Kesenangan di luar tak menjadikan suami
merasa jengah di rumah. Sebab surga
ada di rumahnya; Baiti Jannati (rumahku
surgaku).
Kebahagiaan ini lahir dari istri yang
apabila suami memandangnya, membuat
suami bertambah kuat jalinan
perasaannya. Wajah istri adalah
keteduhan, telaga yang memberi
kesejukan ketika suami mengalami
kegerahan. Lalu apakah yang ada pada
diri seorang istri, sehingga ketika suami
memandangnya semakin besar rasa
sayangnya? Konon, seorang laki-laki
akan mudah terkesan oleh kecantikan
wajah. Sempurnalah kebahagiaan seorang
laki-laki jika ia memiliki istri yang
berwajah memikat.
Tapi asumsi ini segera dibantah oleh dua
hal. Pertama, bantahan berupa fakta-
fakta. Dan kedua, bantahan dari sabda
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Konon, Christina Onassis, mempunyai
wajah yang sangat cantik. Ia juga
memiliki kekayaan yang sangat besar.
Mendiang ayahnya meninggalkan harta
warisan yang berlimpah, antara lain
kapal pesiar pribadi, dan pulau milik
pribadi juga. Telah beberapa kali
menikah, tetapi Christina harus
menghadapi kenyataan pahit. Seluruh
pernikahannya berakhir dengan
kekecewaan. Terakhir ia menutup kisah
hidupnya dengan satu keputusan: bunuh
diri.
Kecantikan wajah Christina tidak
membuat suaminya semakin sayang ketika
memandangnya. Jalinan perasaan antara
ia dan suami-suaminya tidak pernah
kuat.
Kasus ini memberikan ibroh kepada kita
bahwa bukan kecantikan wajah secara
fisik yang dapat membuat suami semakin
sayang ketika memandangnya. Ada yang
bersifat psikis, atau lebih tepatnya
bersifat qalbiyyah!
Bantahan kedua, sabda Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Seorang
wanita dinikahi karena empat hal; karena
hartanya, keturunannya, kecantikannya,
dan agamanya. Maka pilihlah yang taat
beragama niscaya kamu akan
beruntung.” (HR. bukhari, Muslim)
Hadist di atas sebagai penguat bahwa
kesejukan ketika memandang sehingga
perasaan suami semakin sayang, letaknya
bukan pada keelokan rupa secara zhahir.
Ada yang bersifat bathiniyyah.
Dengan demikian wahai saudariku
muslimah, tidak mesti kita harus
mempercantik diri dengan alat kosmetik
atau dengan menggunakan gaun-gaun
aduhai yang akhirnya akan membawa
kita pada sikap berlebihan pada hal yang
halal bahkan menyebabkan kita menjadi
lalai dan meninggalkan segala yang
bermanfaat dalam perkara-perkara
akhirat, wal ‘iyadzubillah. Namun tidak
berarti kita meninggalkan perawatan diri
dengan menjaga fitrah manusia, dengan
menjaga kebersihan, kesegaran dan
keharuman tubuh yang akhirnya
melalaikan diri dalam menjaga hak suami.
Ada yang lebih berarti dari semua itu,
ada yang lebih penting untuk kita
lakukan demi mendapatkan cinta suami.
Sesungguhnya cinta yang dicari dari diri
seorang wanita adalah sesuatu pengaruh
yang terbit dari dalam jiwa dengan
segala kemuliaannya dan mempunyai
harga diri, dapat menjaga diri, suci,
bersih, dan membuat kehidupan lebih
tinggi di atas egonya.
Untuk itulah saudariku muslimah…
Tuangkanlah di dalam dada dan hatimu
dengan cinta dan kasih sayang serta
tanamkanlah kemuliaan wanita muslimah
seperti jiwamu yang penuh dengan
kebaikan, perhatian serta kelembutan.
Bukankah kita telah melihat contoh-
contoh yang gemilang dari pribadi-
pribadi yang kuat dari para shahabiyyah
radiyallahu ‘anhunna…?
Janganlah engkau penuhi dirimu dengan
ahlak yang selalu sedih dan gelisah,
banyak pengaduan dan keluh kesah dan
selalu mengancam, karena hal tersebut
akan menggelapkan hatimu. Tersenyumlah
untuk kehidupan. Seperti kuatnya para
shahabiyyah dalam menghadapi
kehidupan yang keras dan betapa
kuatnya wanita-wanita yang lembut itu
mempertahankan agamanya…
Perhiasan jiwa, itulah yang lebih utama.
Yaitu sifat-sifat dan budi pekerti yang
diajarkan Islam, yang diawali dengan
sifat keimanan. Sebagaimana firman
Allah, (yang artinya) “Tetapi Allah
menjadikan kamu cinta kepada keimanan
dan menjadikan iman itu indah dalam
hatimu serta menjadikan kamu benci
kepada kekafiran, kefasikan, dan
kedurhakaan.” (QS. Al-Hujaraat: 7)
Apabila keimanan telah benar-benar
terpatri dalam hati, maka akan
tumbuhlah sifat-sifat indah yang
menghiasi diri manusia, mulai dari
Ketakwaan, Ilmu, Rasa Malu, Jujur,
Terhormat, Berani, Sabar, Lemah
Lembut, Baik Budi Pekerti, Menjaga
Silaturrahim, dan sifat-sifat terpuji
lainnya yang tidak mungkin disebut satu-
persatu. Semuanya adalah nikmat Allah
Subhanahu wa Ta’ala yang diberikan
kepada hamba-hambanya agar dapat
bahagia hidup di dunia dan akhirat.
Wanita benar-benar sangat
diuntungkan, karena ia memiliki
kesempatan yang lebih besar dalam hal
perhiasan jiwa dengan arti yang
sesungguhnya, yaitu ketika wanita
memiliki sifat-sifat terpuji yang
mengangkat derajatnya ke puncak
kemuliaan, dan jauh dari segala sesuatu
yang dapat menghancurkanya dan
menghilangkan rasa malunya….!
Saudariku… jika engkau telah menikah,
maka nasihat ini untuk mengingatkanmu
agar engkau selalu menampilkan
kecantikan dirimu dengan kecantikan
sejati yang berasal dari dalam jiwamu,
bukan dengan kecantikan sebab yang
akan lenyap dengan lenyapnya sebab.
Saudariku… jika saat ini Allah belum
mengaruniai engkau jodoh seorang suami
yang sholeh, maka persiapkanlah dirimu
untuk menjadi istri yang sholihah dengan
memperbaiki diri dari kekurangan yang
dimiliki lalu tutuplah ia dengan
memunculkan potensi yang engkau miliki
untuk mendekatkan dirimu kepada Yang
Maha Rahman, mempercantik diri dengan
ketakwaan kepada Allah yang dengannya
akan tumbuh keimanan dalam hatimu
sehingga engkau dapat menghiasi dirimu
dengan akhlak yang mulia.
Saudariku… ini adalah sebuah nasihat
yang apabila engkau mengambilnya maka
tidak ada yang akan diuntungkan
melainkan dirimu sendiri.
Disalin dari: Buletin al-Izzah edisi no16/
thn III/Muharram 1425 H